Selamat Datang di web Prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir - Institut Agama Islam Negeri Kudus !

Prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir

Puasa dan Keadaban Digital Kita di Dunia Maya

Blog Single

Makna dari puasa الصوم adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa الإمساك عن المفطرات mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Melaksanakan puasa ramadan adalah bagian dari kewajiban muslim karena puasa ini adalah salah satu rukun Islam yang lima yaitu : sahadat, sholat, puasa di bulan ramadan, zakat dan haji.

Puasa yang memiliki makna dasar “menahan” idealnya harus berkorelasi positif pada pembentukan jiwa dan karakter muslim yang beradab dan berkahlakuk karimah. karena substansi dari puasa tidak sebatas menahan makan dan minum tapi juga mampu menahan amaran dan menahan perbuatan lain yang kotor dan merusak. Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan

إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ

Apabila salah seorang dari kalian berpuasa di suatu hari, maka janganlah ia berkata-kata kotor dan berbuat kesia-siaan. Bila ia caci seseorang atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan, "Sesungguhnya saya sedang berpusa. ( HR. Muslim)

 

Keadaban Digital Kita di Dunia Maya

Kedaban digital (digital civility) adalah nilai budi pakerti atau moralitas di dunia maya/virtual. Masuknya modernisasi ikut mengubah cara berkomunikasi manusia di antaranya dengan hadirnya media sosial dengan berbagai platformnya. Hampir semua masyarakat kita memiliki akun media social untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain di dunia virtual namun yang menyedihkan pola interaksi di dunia maya kerap kali merusak, karena netizen (pengguna internet) begitu mudah mencemooh, mem-bully atau bahkan berkata kotor karena suatu hal di medsos. Maka tak berelebihan Microsoft merilis hasil surveynya pada netizen di mana untuk indeks keadaban digital masyarakat Indonesia menempati pada rangking 29 dari 32 negara di Asia Pasifik. Angka yang memperhatinkan tersebut mengindikasikan bahwa keadaban digital masyarakat kita sedang tidak baik-baik saja.

Merekonstruksi Makna Puasa

Puasa yang bermakna “Manahan” tidak sebatas dimaknai menahan makan minum tapi juga menahan untuk tidak berkata kotor, mencemooh, menghujat, memaki dan perkataan lain yang destruktif khususnya di media sosial. Kenapa medsos? karena medsos tidak memiliki skat sehingga penggunanya merasa leluasa tanpa kontrol dan cukup berbeda dengan interkasi di dunia nyata. Oleh karena itu, momentum puasa ini sebenarnya bisa menjadi titik balik untuk memperbaiki perilaku kita yang mungkin kurang beradab di dunia maya dengan cara “menahan” untuk tidak menghujat, mencemooh atau memprovokasi di sosmed. 

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mencoba merumuskan jenis puasa bagi kalangan khas di mana puasanya tidak sebatas menahan makan dan minum tapi juga berpuasa untuk tidak berbohong, ghibah, namimah (adu domna), sumpah palsu dan melihat dengan sahwat. Bagi al-Ghazali jika berpuasa tapi berbohong dan melakukan provokasi maka puasanya batal. Jika rumusan ini mampu kita terapkan dan teladani niscaya nilai keadaban kita akan membaik dan potret budaya timur yang penuh dengan keadaban, kesopanan dan cinta kasih akan hadir kembali menghiasi altar digital kita. Semoga.

 

Penulis : Abdul Fatah, Dosen IQT IAIN Kudus

  

Share this Post: