Selamat Datang di web Prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir - Institut Agama Islam Negeri Kudus !

Prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir

Mahasiswa IQT belajar mendialogkan antara teks, akal dan realiats bersama Gus Ghofur Maimoen

Blog Single

Kamis, 25 Mei 2023 Mahasiswa Prodi IQT kelas C6IQR melakukan Praktik kunjungan lapangan (PKL)  ke Ponpes Al Anwar 3 Sarang Rembang. Kegiatan PKL tersebut bertempat di Aula STAI Al Anwar, dengan mengusung tema “Kajian Tafsir dan Tantangan di Era Disrupsi”.  Turut hadir pada kunjungan tersebut Dr. Ahmad Atabik, Lc, M.S.I, Dekan FU IAIN Kudus, Dr. Abdul Fatah, M.Si , Sekretaris Prodi IQT sekaligus DPL (Dosen Pembimbing Lapangan)  dan Aziizatul Khusniyah, M.Hum selaku DPL.

Gus Gofur, sapaan akrab Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen, MA menyampaikan “Pengetahuan agama itu hanya satu, satu itu bukan berarti sedikit. Bahwa itu di antara satu di antara sekian. Maka kalau orang hanya belajar agama tanpa belajar pengetahuan yang lain, maka seperti orang itu “kurang piknik”. Oleh karena itu dibutuhkan wawasan yang luas supaya mampu memahami pesan yang tertulis dalam al-Qur’an dengan baik dan bijak.

Beliau menambahkan bahwa, pengetahuan itu ada dua, yang pertama yaitu pengetahuan al makrifat al qobliyah dan al makrifat al ba’diyah. Pengetahuan sebelum kenal dengan masyarakat dan pengetahuan setelah kenal masyarakat (didialogkan di masyarakat). Apa yang tertulis dalam teks terkadang berbeda dengan kondisi relaitas di lapangan. Ini-lah pentingnya mampu membaca perubahan zaman sehingga teks keagamaan bisa diapahmi dengan luwes dan tidak rigid/kaku. Di samping itu, penemuan-penemuan baru juga berpotensi ikut merubah lanskap keilmuan yang lain, maka terkadang dibutuhkan penyesuian atau adaptabilitas

Di antara tantangan terkini adalah kehadiran teknologi digital di mana keberadaanya berkontribusi merubah pola atau tata cara berinterakaksi manusia, maka untuk menunjang pemahaman pada teks dengan peradaban manusia yang telah bergeser begitu dinamis akibat hadirnya internet maka ilmu-ilmu bantu seperti sosiologi, antropologi, psikologi bahkan hermenutika jika dirasa penting menjadi mendesak untuk juga dipelajari. Kecerdasan untuk mendialogkan antara teks, akal dan realiats adalah kunci untuk merespon tantangan era disrupsi. Wassalam.     

Share this Post: